WELCOME TO MY BLOG

WELCOME TO THIS BLOG. ENJOY THE STORY OF MY CERPEN :-)

Selasa, 18 Januari 2011

buat cemilan

Ini Cuma kisah pendek yang gw buat selagi nungguin kapan waktu yang tepat buat post last episode dari cerpen fiksi “Gw Wawan”.
Alkisah ada seorang anak kecil. Kecil..... banget.... sampe – sampe dunia gak memperhatikan dia. Anak ini punya mimpi. Ketika dia mengalami masalah atau sedang berdoa, dia selalu berkata dalam hati, “Aku berjanji untuk membuat jalanku sendiri. Jalanku sebagai pembawa kebahagiaan yang tidak disadari”. Dan hal itu pun dia lakukan. Banyak kebahagiaan yang udah dia berikan ke semua orang – orang yang berada di dekatnya tanpa di sadari mereka. Bagai seorang guru yang memiliki embel – embel “Pahlawan Tanpa Tanda jasa”, mereka yang sudah dibuat anak ini bahagia tidak sadar dan bahkan tidak tahu tentang apa yang selama ini anak itu lakukan.
Ketika memasuki masa – masa SMP, dia sudah mulai mengenal cinta. Ya. Kata yang punya banyak arti tapi memiliki sedikit kemudahan dalam menjalankannya. Ada seorang gadis, biasa saja (pada awalnya). Tapi lama kemudian, banyak kata yang sama sekali dia ucapkan tanpa rasa sadar sedikit pun. Dia manis, dia bisa membuat saya nyaman, senyumannya indah, bla bla bla..... seperti menggunakan earphone, kata itu terus menerus serasa diulang di telinganya. Sampai akhirnya dia sadari bahwa dia jatuh cinta pada gadis itu. Dia mendekat, tapi tak berani. Ingin menyapa, tapi bibir kaku saat didekat gadis itu. Mau berkenalan, pasti dianggap orang gila karena memang sudah kenal. Akhirnya yang dia bisa lakukan adalah mengganggu gadis itu setiap hari. Usil. Menjambak rambutnya, meledeknya, mengerjainya dengan berbagai cara. Sebenarnya yang dia inginkan hanyalah sebuah perhatian dan berharap gadis itu suka dengan dia.
Hingga akhirnya dia merasa shock dan tertegun ketika gadis yang dia suka itu telah memiliki seseorang. Bahkan orang itu tidak lain adalah temannya. Orang yang dia kenal dan sering bercanda. Dia pun sempat bersedih, berdoa mengapa mengalami hal seperti itu, merenung dan tidak memiliki semangat apapun. Sampai akhirnya dia kembali bangkit dan memutuskan untuk tidak terpuruk lagi. Dia pun membuat janji baru, “Aku akan membuat orang – orang didekatku serta orang yang spesial bagiku memiliki kebahagiaan meski mereka tidak menyadarinya” kata dia dalam hati.
Selang tiga tahun, dia pun lulus dan tetap terbayang dengan gadis pujaan nya itu. Orang pertama yang benar – benar dia sukai. Ketika memasuki tahap SMA, dia kembali tercengang, gadis pujaannya itu ternyata satu sekolah dengannya lagi. Kembali dia merasa bingung, banyak pertanyaan yang seakan – akan siap datang untuk menyerang nya. Apakah dia masih jadi kekasih temanku? Apakah ini takdir ku? Apakah dia jodoh ku? Bla bla bla...
Diapun berusaha menenangkan dirinya dengan tetap fokus kesekolahnya. Tapi gagal. Wajah gadis itu, senyum gadis itu, dan semua hal tentang gadis itu terbayang – bayang oleh nya. Bahkan suara gadis itu seperti terdengar memanggil – manggil namanya walaupun kenyataannya adalah guru kimia yang bisa dibilang sangat galak yang memanggil namanya. Diapun kena hukum. Kemudian berbagai cara dia pikirkan, mulai dari menyatakan cinta secara langsung atau menahan dulu. Dia pun memilih untuk menahan perasaannya terlebih dahulu dan memilih fokus ke arah ujian semester. Ketika menjelang ujian semester, pikirannya kacau, bukan kacau karena takut gagal ujian, tetapi kabar yang dia dapat dari teman – temannya bahwa gadis yang dia suka telah dekat dengan seseorang lagi. Seseorang yang bahkan kali ini tidak asing bagi dia. Teman terdekatnya, paling dekat. Bahkan mungkin seperti saudara. Sedih, hancur, remuk, sakit hati yang mendalam dia rasakan ketika tahu bahwa teman terdekatnya yang selama ini menjadi tempat dia membuka diri tentang perasaannya ke gadis itu lah yang merebut hati pujaaannya.
Dia terpuruk lagi, meski sudah memutuskan tidak akan mengalaminya lagi, tapi dia tetap terpuruk, bahkan lebih dalam. Seperti rasa benci dengan semuanya, dengan cinta. Hingga menjelang ujian semester, dia masih menyimpan rasa bencinya terhadap hal yang sempat membuat dia merasa terbang melayang, cinta. Dia kembali berdoa, berdoa pada zat yang menciptakannya. Berdoa pada Tuhan yang Maha Esa. Dalam doa dia memohon untuk dilapangkan hatinya, diberi ketenangan batin, dan berharap tidak gila. Dalam doa itu, kembali dia mengucapkan ikrar, “Takdir saya akan saya buat sendiri, tujuan hidup saya adalah untuk mereka, semuanya. Asalkan mereka bahagia sayapun ikut merasakannya. Akan saya lakukan segala cara untuk membuat mereka bahagia” katanya dalam doa tersebut.
Lama kemudian, setelah memasuki masa kelas tiga SMA, diapun merasa mendapatkan hati baru. Ya. Cinta itu datang dan pergi. Kapanpun ia mau. Kali ini seorang gadis berkerudung, tidak cantik, tidak begitu tinggi, tapi manis dan ramah serta membuat hati tentram. Itu yang dia rasakan. Ingin sekali dia mengenal gadis itu. Tapi dia takut, takut mengalami sakit hati lagi. Dia pun kembali menunggu. Hanya menunggu. Hingga akhirnya perasaan itu dia tahan hingga masuk ke kelas tiga SMA. Kembali dia dikejutkan. Gadis pujaan keduanya itu ternyata sekelas dengannya. Antara bahagia bercampur bingung yang dia rasakan. Tapi alangkah bodohnya dia ketika memutuskan untuk kembali menunggu dan kembali merasa patah hati ketika dia tahu bahwa teman terdekat lainnya yang berbeda dengan sebelumnya tapi sama dekatnya seperti saudara yang telah meraih hati gadis itu. Kali ini dia dewasa, tidak terpuruk. Seperti yang dia katakan sebelumnya, kebahagiaan orang yang dia sayang adalah kebahagiaannya juga. Bahkan sebelum teman dekatnya itu menjadi kekasih pujaan hatinya, dia mendukung dan membantu agar mereka bersatu. Sungguh perbuatan yang bisa dibilang antara terhormat dan bodoh karena ternyata gadis itu justru merasa tersiksa lahir dan batin ketika disakiti terus menerus oleh temannya itu. Ingin dia menolong tapi dia menghargai temannya. Dia pun kembali menunggu. Hingga akhirnya mendapat sebuah kesempatan kuliah yang jauh dari tempatnya. “Semoga dengan ini semua yang dulu aku rasakan bisa hilang” katanya.
Tempat baru, lingkungan baru, orang – orang baru dengan sifat yang baru.hanya butuh beberapa waktu bagi dia untuk kembali merasakan cinta. Penyakit itu selalu datang kemanapun dia melangkah. Antara benci dan suka. Tapi dia menikmati. Dia bertemu dengan seorang gadis, kali ini cantik, ramah, baik hati, dan bisa dibilang mendekati sempurna. Kali ini dia tidak ingin menunggu. Tidak untuk kesekian kalinya. Dia langsung mendekati dan ternyata gadis itu merespon dengan sangat baik. Merekapun menjadi pasangan kekasih. Bagai gula dan semut. Kemana ada dia, gadis itu selalu ada disampingnya, begitupun sebaliknya. Meskipun hubungan mereka backstreet atau tidak diketahui oleh kedua orang tua mereka masing – masing, tapi mereka tetap optimis bahwa mereka akan bersatu.
Bahagia rasanya, selalu didampingi kekasih hati kemanapun melangkah. Tetapi belum lama dia merasa bahagia, kekasihnya mengakui bahwa dia sudah memiliki seseorang. Seperti di tusuk jarum rasanya hati itu. Mereka pun berkumpul disuatu tempat untuk membahas masalah. Untuk menentukan pilihan. Gadis itu memilih untuk meninggalkan kekasih lamanya karena bagai disarang harimau. Sedih serta sakit hatilah yang ia rasakan ketika dengan kekasih lamanya. Kembali kebahagiaan itu datang. Bagai romeo dan juliet, mereka benar – benar tidak bisa dipisahkan.
Hingga suatu saat kabar menyedihkan datang kembali. Gadis itu akan dijodohkan dengan seseorang yang lebih bermateri dan dianggap bisa membahagiakan gadis itu. Dia kembali bingung dan berkata kepada gadis itu bahwa pilihan di tangan gadis itu karena hidup ini adalah miliknya. Suatu ketika, gadis itu meminta untuk di telefon olehnya. Dengan senang hati dia menelfonnya dan membayangkan bercanda ria kembali dengan kekasihnya itu. Tetapi, bagai jatuh tertimpa tangga gadis itu memintanya untuk melepaskannya. Dia kaget, benar – benar kaget. Dia menangis, tetapi dalam hati. Lalu dibalasnya permintaan gadis itu lewat telfon dengan nada tenang bahwa dia akan melepaskannya dan berdoa semoga mereka bahagia. Perasaan berkecamuk menyerang dirinya. Seperti ingin bunuh diri. Tetapi ketika dia teringat dengan kedua orang tuanya, dia pun sadar dan merasa hidup harus dilanjutkan. Dia sadar bahwa gadis itu ingin kembali dengannya, tetapi dia menepati ikrarnya untuk membuat orang yang dia sayang bahagia. Dia memilih untuk menjadi orang kejam di depan gadis itu. Cuek, jutek, merasa tidak melihat gadis itu hanya untuk membuat hati gadis itu memiliki satu tujuan, yaitu orang yang dijodohkannya. Dia tidak ingin hati gadis itu tersiksa dengan memiliki perasaan yang terbagi. Lalu akhirnya dia memilih untuk bungkam.
Kembali lagi dia menemukan hati baru. Sempat dia merasa kesal mengapa hati nya tidak pernah lepas dari penyakit yang dia takuti, cinta. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia menunggu. Tetapi rasa menuunggu itu membuatnya bosan dan mengambil langkah cepat lalu mendekatinya dan disambut dengan baik. Mereka sangat dekat meski belum menjadi pasangan kekasih. Hubungan merekapun tidak hanya backstreet dari orang tua mereka, tetapi backstreet dari teman – temannya. Hal yang dia rasakan saat bersama kekasih pertamanya pun kembali dia rasakan. Bahagia yang tiada tara.
Kali ini tidak butuh waktu yang lama, hanya sebentar saja gadis itu sudah berubah sikap dengannya. Dia pun dilanda kebingungan. Tetapi kemudian dia mengerti bahwa gadis itu telah menduakannya. Ya. Seperti memainkannya. Bagai seekor keledai, dia adalah TTM yang di duakan saat mereka sudah yakin akan bersatu saat dia berhasil melepas gadis itu dari cengkraman mantannya yang sering membuat gadis itu sedih. Kali ini dia benar – benar sakit hati bahkan membenci gadis itu. Sangat membencinya.
Tapi ketika dia kembali berdoa, dia menemukan jawaban bahwa tidak perlu melakukan hal seperti itu. Dia pun kembali melapangkan hatinya. Dia ikhlaskan gadis itu. Merasakan bahagia ketika tahu bahwa gadis itu sudah merasa lebih baik. Dan berharap dia bahagia dengan kekasih barunya yang menurut gadis itu lebih dewasa. Lama sekali dia merasa sendiri dan akhirnya terbiasa.
Kemudian dia dikagetkan dengan sesuatu yang benar – benar membuat hatinya berdegup kencang. Gadis berkerudung pujaan nya sewaktu SMA yang gagal dia dapatkan menghubunginya. Gadis itu mencurahkan seluruh  keluh kesahnya mengenai teman dekat dia yang menjadi kekasihnya. Kali ini temannya benar – benar tidak lagi ragu – ragu untuk memukul sang gadis, bahkan sang gadis pun sampai sering menyakiti dirinya sendiri karena dilanda stres. Dia pun menemani gadis itu lewat hubungan jarak jauh. Anehnya ketika mereka saling jujur, ternyata mereka saling merespon hati satu sama lain. Dia pun membimbing gadis itu untuk lepas dari temannya. Geram rasanya yang dia rasakan saat tahu gadis pujaannya di buat bagai boneka oleh temannya. Ketika hati mereka sudah saling  sahut menyahut, merekapun dekat. Bahkan kali ini sang gadis berkata putus pada kekasihnya dan memilih dirinya. Kembali lagi bahagia. Tidak lama. Karena ketika kembali ada perubahan sikap, dia pun curiga. Lalu dia pun menyelidiki. Sakit hati yang mendalam dia rasakan lagi. Sang gadis ternyata kembali dengan temannya. Bagai alat yang sudah tidak diperlukan lagi rasanya yang dia rasa. Namun dia sadar bahwa hati manusia itu tidak seperti baja. Dia pun merelakannya dan memilih seperti saat kekasih pertamanya. Bersikap jahat seolah – olah membenci karena ingin hati gadis itu memiliki satu tujuan dan tidak terbagi. Cukup lama dia terpuruk.
 Hingga dia kembali dibuat gelisah dengan penemuannya. Ya. Gadis baru. Kali ini memiliki umur berselisih tidak jauh. Mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dari dia. Hubungannya dengan gadis ini dia temukan saat sedang singgah di sebuah daerah untuk melakukan praktek kerja. Sama seperti sebelumnya, hanya TTM tapi seperti sudah menjadi kekasih. Bahkan dia ingin sekali bertemu langsung dengan orang tua gadis itu. Walau dia tahu bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih.
Tetapi justru sikapnya itu membuat dia dihantui rasa bersalah. Dia yakin akan ada masalah baru yang datang dari kekasih sang gadis. Lalu dia mencari cara. Akhirnya dia temukan dengan tidak kembali menghubungi gadis itu dan berharap gadis itu dapat melupakannya walau dia benar – benar sudah jatuh cinta deengan gadis itu. Hanya butuh beberapa hari kemudian dia akhirnya menemukan seorang gadis baru. Kali ini benar – benar mendekati sempurna, lebih dari semua gadis yang dia temui. Seperti hubungannya dengan gadis ke empat tadi, dia berhasil mendapatkan gadis itu dan mereka berhubungan backstreet dari orang tua mereka serta dari teman – temannya. Ddia pun bisa menerimanya. Bahkan kali ini dia sudah benar – benar dewasa. Bisa menahan perasaan saat bertemu dengan gadis nya di saat banyak teman – teman mereka dari berbagai arah. Kali ini dia kembali mencurahkan semua perasaannya, sama seperti semua gadis yang dia temui. Selalu mencurahkan perasaannya sepenuh hati. Walau pernah ada temannya yang berkata bahwa jangan terlalu mencurahkan perasaan tapi dia tidak perduli. Bagi dia, wanita adalah sesuatu yang harus dijaga. Maka, jika memiliki seorang kekasih, baik akan jadi ataupun tidak, dia bersumpah untuk mencurahkan seluruh perasaannya walau akan berakhir sakit hati. Kekasihnya adalah orang yang selalu memberi dia semangat. Walau kekasihnya sibuk, dia selalu menunggu nya untuk bisa kontak dengan gadis itu.
Hubungan yang benar – benar sempurna tetapi berakhir seperti yang lainnya. Dia kembali ditinggalkan begitu saja. Sang kekasih ingin dia merasa bahagia karena merasa bahwa dirinya terlalu sibuk sehingga kekasihnya tidak bisa selalu menemaninya. Walau dia sudah berusaha susah payah bahwa dia bisa menerima kondisi kekasihbarunya, gadis yang sempurna dimatanya, tetapi kekasihnya tetap ingin dia melepasnya. Apalah boleh dikata, dia pun kembali merasa sakit hati. Mendalam. Tetapi seperti yang sebelumnya, dia bisa kembali melapangkan dadanya untuk ikhlas. Bahkan kali ini dia pun sudah ikhlas sepenuh hati dan berpikir positif bahwa mereka bukan jodoh jadi biarlah terjadi. Diapun yakin bahwa dengan itu maka kekasihnya akan bahagia. Dia pun akhirnya memiliki sikap yang luar biasa. Hikmah dari apa yang selama ini dia alami adalah hati yang kuat dan kesabaran yang luar biasa. Dia pun memutuskan untuk membagi cerita ini ke dua orang teman terdekatnya. Bagi dia, kebahagian orang yang dia sayang adalah yang utama. Meski mereka tidak sadar, dia selalu memperhatikan.
Entah petualangan cinta apa lagi yang akan dia temui di masa mendatang. Tapi kali ini dia hanya bisa bersikap pasrah dengan berdoa siapapun jodohnya semoga diberikan yang terbaik. Hati manusia memang lemah, tetapi ketika kita benar – benar berniat untuk menjadi pribadi yang kuat maka harus dengan disertai usaha. Maka hati seperti baja akan kita dapatkan.......

END


Well,,, kisah yang iseng – iseng gw tulis selagi mencari ide buat last post “gw wawan”. Kalo bagus ya d komen, kalo nggak......... berarti mata anda perlu dipriksa. ahahahahaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar